Treat Me Better

TREAT ME BETTER

Hey! Say! JUMP’s Yamada Ryosuke, Arioka Daiki with OC’s Akiyama Asako | slice of life, slight!romance, slight!friendship | vignette (1,9k words) | PG13

a fanfiction by byeongariz

.

.

Menilik ponselnya sekali lagi, Akiyama Asako tampaknya sudah terlampau jengah. Hampir lewat empatpuluh menit berlalu, namun seseorang yang ditunggunya belum juga memunculkan batang hidungnya. Asako ingin marah, namun dia juga merasa tak memiliki hak untuk merasa demikian. Mungkin saja dia sedang sibuk? Atau yang paling parah, laki-laki itu melupakan kata-katanya yang terlanjur mengiakan ajakan Asako kemarin malam—karena bahkan ponsel Asako tidak menerima satu pesan atau kabar apa pun yang menandakan apakah si lelaki masih hidup atau jangan-jangan sudah tewas dikalahkan lelap.

Gadis itu menghela napas, lantas memilih untuk melemparkan ponselnya ke dalam tas dan mulai merajut tungkainya menjauhi tempat tersebut. Dia tak tahu harus pergi ke mana lagi. Padahal, pikirnya sudah membayangkan sejak kemarin bahwa malam ini dia akan bersenang-senang dengan laki-laki itu. Dia membayangkan bahwa malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang. Membunuh waktu bersama Yamada Ryosuke—nama si lelaki—dan melupakan semua penat serta ruwetnya kehidupan yang akhir-akhir ini membebat isi kepalanya. Ini menyebalkan! Dan semakin terasa menyebalkan lantaran laki-laki itu menghilang tiba-tiba. Asako sudah tidak punya siapa-siapa lagi untuk diajaknya pergi. Maka, tatkala maniknya menjumpai sebuah kedai ramen tak jauh dari tempatnya berdiri, Asako memutuskan untuk masuk ke dalam dan mengisi perutnya dengan apa pun yang disediakan di sana.

Well, setidaknya dia harus mengisi perutnya dulu dan selepas itu dia akan memikirkan lagi akan menghabiskan waktu ke mana malam ini.

Asako masih menenggak sake, kala telinganya menangkap dering ponsel miliknya yang menyalak dari dalam tas. Kendari separuh kesadarannya sudah terenggut—masih berusaha tampak tenang—gadis itu menjulurkan tangan demi mengacak-acak ruang di dalam tasnya dan menjumput ponsel yang masih berdenging itu. Asako tersenyum kecil saat melihat nama yang muncul di layar; dia tahu bahwa Yamada Ryosuke akan menghubunginya.

“Kau di mana? Maaf, aku masih memiliki beberapa pekerjaan dan baru saja selesai, aku akan segera ke sana—hei, cepat katakan di mana dirimu sekarang?”

Segelas sake dituntaskan habis oleh Asako kala menunggu Ryosuke menyelesaikan kalimatnya. Gadis itu susah payah meramu fokus serta berusaha sekeras mungkin untuk terdengar baik-baik saja.

“Yamada-kun? U-uh, aku baik-baik saja. T-tidak perlu menjemputku … sebentar lagi aku pulang … well, jangan khawatir!”

Jemari Asako menuang lagi minuman tersebut ke dalam gelasnya. Dan setelah tegukan terakhir itu, Akiyama Asako merasa suara Ryosuke di seberang sudah tak terlalu jelas lagi. Tanpa sadar, dia menjatuhkan ponselnya dan sepersekon kesadarannya pulih, Asako memilih untuk lekas berkemas dan melupakan fakta bahwa sambungan teleponnya dengan Ryosuke belum terputus.

Tungkai Asako perlahan tertaut meninggalkan kedai tersebut dengan langkah super hati-hati. Di tengah kesadarannya yang semakin menghilang, Asako hanya membiarkan sepasang kakinya menuntunnya ke mana pun akan pergi. Gadis itu sudah tak memedulikan ponselnya yang menyalak berkali-kali, yang dia inginkan hanyalah segera sampai di suatu tempat dan merebahkan diri. Sejatinya, dia bukan termasuk penggemar minuman beralkohol, namun Asako tak menampik fakta jika dirinya memang kerap menenggak alkohol ketika pikirannya sedang runyam. Dan entah mengapa Asako merasa dirinya perlu mabuk malam ini.

Asako terus melangkah—kendati sedikit terhuyung—namun dia berhasil sampai di depan sebuah flat. Menekan pass code selama hampir lima menit di tengah minimnya kesadaran, akhirnya gadis itu berhasil membuka pintu dan bergegas masuk. Dia menendang sepatunya asal lantas menyeret tungkainya semakin dalam ke arah sebuah kamar yang terdapat pada flat tersebut. Sejenak, gadis itu tersenyum menyadari kehangatan di dalam flat ini masih terasa sama—dia selalu menyukainya. Selepas melemparkan tubuhnya di atas kasur, Asako lekas menarik selimut dan memejamkan matanya. Dia berpikir untuk beristirahat sejenak dan memulihkan kesadaran selama beberapa saat hingga akhirnya kantuk memakan kesadarannya dan gadis itu berakhir mendengkur di kamar tersebut.

.

.

.

Arioka Daiki baru tiba di dalam flat kala dia mendapati sepasang sepatu—Daiki kenal betul siapa pemilik sepatu tersebut—tergeletak begitu saja di dekat rak sepatu. Pemuda itu sedikit mempercepat pergerakannya melepas sepatu miliknya dan tak lupa meletakkan sepatu yang berserakan tadi di atas rak lantas segera masuk ke dalam kamarnya. Dan benar seperti dugaannya. Gadis itu datang lagi—oh, gadis itu mabuk lagi.

Ketika Daiki menaikkan selimut untuk menyelubungi tubuh gadis yang tengah tertidur di atas ranjang miliknya, telinga pemuda itu lantas mendapati dering ponsel yang menyalak tak henti-hentinya dari dalam tas sang gadis. Membuang napas berat, Daiki akhirnya memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut. Well, bukannya dia lancang, tapi Daiki tak ingin bunyi ponsel itu mengganggu tidur sang gadis yang tampak begitu kelelahan.

Arioka Daiki kembali membuang napas setelah menyadari siapa si penelepon yang sejak tadi belum berhenti mengganggu gadis tersebut. Namun, rupa-rupanya Daiki mengerti kenapa si penelepon tampak gigih mengusahakan panggilannya agar terjawab—dia sudah pasti sangat mengkhawatirkan gadis ini. Oh, apa yang sebenarnya sedang terjadi?

“Hei, kau tak perlu mengkhawatirkannya lagi. Dia baik-baik saja … yeah, aku bersamanya … ah, tidak, tidak perlu. Dia sedang tertidur … well, dia mabuk dan kurasa sebaiknya kau menjemputnya besok pagi … hei, tentu saja aku akan menjaganya. Tidak perlu kau beritahu pun aku sudah paham. Sudahlah, jangan menelepon lagi.”

Daiki menutup panggilannya sepihak—tanpa perlu menunggu si penelepon mengudarakan kalimat penutup. Lantas, ditatapnya wajah sayu gadis yang masih terlihat damai di dalam tidurnya itu. Arioka Daiki tersenyum—tsk, kau bahkan masih belum berubah, Asako.

.

.

.

Asako terbangun dan merasakan seluruh tubuhnya bak remuk sementara perutnya bergemuruh meminta seluruh isinya segera dimuntahkan. Dengan pergerakan tak beraturan lantaran pening yang tiba-tiba mendera kepalanya, gadis itu mengukir langkah menuju kamar mandi. Dihabiskannya beberapa menit di dalam kamar mandi, Asako lantas kembali ke dalam kamar. Dan di sanalah dia akhirnya menyadari keberadaannya saat ini. Seluruh isi kamar tersebut memang sangat akrab dengannya, namun ini bukan kamarnya sendiri, sungguh. Aroma lavender yang menenangkan ini tak akan pernah ditemui di kamar milik Asako. Gadis itu duduk di tepian ranjang lantas mendesah panjang selagi mengurut pelipisnya dan mengumpati kebodohannya kali ini.

Well, kejadian ini memang bukan pertama kalinya yang terjadi. Asako kerap melakukannya; pergi mabuk dan paginya berakhir di dalam kamar milik laki-laki itu. Benar, kamar Arioka Daiki—Asako terbiasa memanggilnya Daichan—mantan kekasihnya. Sial! Padahal dia sudah berjanji kepada Ryosuke bahwa kejadian memalukan seperti ini tidak akan pernah terulang lagi. Namun, agaknya ini telah menjadi kebiasan terburuk Asako. Gadis itu sudah terbiasa pulang ke flat Daiki dan tertidur di atas kasurnya. Ini buruk. Sangat buruk.

“Oh, kau sudah bangun?”

Tersentak dari lamunannya, Asako terperenyak kala mendapati presensi Arioka Daiki yang sudah berdiri di ambang pintu dengan senyuman manisnya. Pernapasan sang gadis terdistraksi selama beberapa sekon lantas segera tersadar akan status hubungan mereka saat ini. Asako menghela napas sembari menggumam maaf. Dia sama sekali tak berniat mengganggu kehidupan Daiki lagi, tapi … oh, kebiasan buruknya itu memang sialan!

“A-aku minta maaf, Daichan. Aku sama sekali tidak bermaksud pergi menyelusup ke sini, t-tapi ….”

Daiki tersenyum kecil kemudian mengikis spasi dengan posisi Asako. Pemuda itu menggeleng dan tersenyum. Sepersekon selanjutnya dia sudah menarik tangan Asako sehingga gadis tersebut bangkit dengan terpaksa. Asako sedikit terkejut lantaran Daiki tiba-tiba menggenggam tangannya dan menariknya keluar dari kamar.

“Tidak apa-apa. Kaubisa datang ke sini kapan pun kau mau. Duduklah, dan habiskan sup kaldu itu agar tubuhmu merasa lebih baik.” Daiki mendudukkan Asako dan sudah menghadap sebuah meja makan di mana di atasnya telah siap semangkuk sup kaldu, segelas jus jeruk dan juga cracker. Manik Asako mengerjap tak percaya, sementara Daiki yang sudah duduk di hadapannya—masih tersenyum sembari menatapnya.

Arioka Daiki sama sekali tidak berubah. Bagaimana bisa dia masih memperlakukan Asako seperti ini—bahkan setelah mereka mengakhiri hubungan beberapa bulan lalu. Laki-laki itu sama sekali berpolah seolah mereka masih seperti sepasang kekasih. Dia memang terbiasa menyiapkan semua ini ketika Asako mabuk di malam hari. Namun, apakah masih bisa Asako menerimanya setelah semua yang terjadi, huh? Dan tiba-tiba saja, refleksi sosok Yamada Ryosuke berkelebat di dalam pikiran Asako. Demi Tuhan, ini semakin tidak benar, Asako.

U-uh, a-aku … kurasa aku harus pulang, Daichan. Aku mengabaikan Yamada-kun semalaman, dia sepertinya sedang khawatir. U-uh, sekali lagi maafkan aku.”

“Habiskan dulu supnya dan setelah itu aku akan mengantarmu pulang, oke? Semalam dia memang meneleponmu, tapi aku sudah mengatakan kepadanya … aku akan menjagamu dan mengantar pulang pagi ini.”

Asako mengumpat di dalam hati; tidak bisa, dia tidak boleh terjebak seperti ini lagi. Oh, ayolah Asako, Daichan hanya ingin berbaik hati kepada temannya—well, setidaknya mereka memang masih berstatus sebagai teman, bukan? Maka, setelah kehilangan kata-kata untuk melontarkan kalimat penolakan lagi, Asako memilih segera menyantap sup buatan Daiki. Tentu saja semua ini membuat kilasan masa lalu mereka berdua kembali menggerayangi pikirannya. Asako bahkan berpikir jika Daiki akan membencinya setengah mati setelah berakhirnya hubungan mereka, tapi nyatanya? Laki-laki itu masih memperlakukannya sama seperti dulu. Tak ada yang berubah dari sosok Arioka Daiki, begitu pikir Asako.

Selepas menghabiskan makanannya, Asako bergegas membasuh muka dan bersiap pergi. Dia tak ingin berlama-lama di dalam flat Daiki dan merepotkan pemuda tersebut. Dan Daiki pun akhirnya mengantar gadis tersebut kembali ke flatnya. Sepanjang perjalanan, Daiki tak henti menceritakan semua hal yang terlintas di benaknya atau sesekali membuat Asako larut dalam tawa. Keduanya sama sekali tak terlihat seperti sepasang mantan kekasih. Siapa pun yang melihat pasti berpikir jika mereka adalah sepasang merpati yang tengah saling jatuh cinta.

Sesampainya di flat milik Asako, mereka dikejutkan oleh eksistensi Yamada Ryosuke yang tengah berdiri di depan pintu. Asako terserang kikuk, namun tidak demikian dengan Arioka Daiki yang justru menyapa Ryosuke dan melontar beberapa kalimat padanya.

“Ah, baiklah kalau begitu, aku pamit pulang. Well, aku menepati janjiku, bukan? Gadis ini sudah pulang dengan keadaan sangat baik-baik saja.” Daiki tersenyum, lantas menepuk-nepuk kepala Asako selama beberapa detik dan melenggang pergi selepas berpamitan pada keduanya.

Asako yang merasa kini terperangkap berdua saja dengan Ryosuke memilih untuk menekan pass code flat-nya dan menyuruh sang pemuda masuk setelah pintu tersebut terbuka. Ryosuke membuntuti Asako tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dan kecanggungan itu semakin merambat ke ubun-ubun, kala keduanya memilih untuk saling bungkam. Tak ada yang berani mengeluarkan cakap untuk pertama kalinya. Hingga desahan napas Asako membelah keheningan.

“Maaf, aku mengabaikanmu semalaman. A-aku sudah tak sadar setelah kalimat terakhirku saat kau meneleponku waktu itu—“

“Dan kau berakhir tidur di flat miliknya lagi.” Getar suara Ryosuke terdengar sangat datar. Tak tersirat jenis ekspresi apa yang sedang ditunjukkannya—dan Asako benci jika Ryosuke sudah bersikap membingungkan seperti ini.

Yeah, my bad. Maafkan aku, Yamada-kun.”

Asako melangkah ke dapur dan menuang segelas air mineral dan menguknya lekas-lekas. Sementara Ryosuke masih belum melepas tatapannya dari sosok Asako barang sejengkal pun. “Kenapa harus dia? Kenapa kau tidak bilang saja semalam, aku bisa menjemputmu dan kau tidak harus berakhir tertidur di flatnya lagi.” Kali ini, Asako yakin jika Ryosuke tengah mengkhawatirkannya.

Menoleh sejenak, Asako lantas membagi seulas senyuman ke arah Ryosuke. “Yamada-kun, aku baik-baik saja. Jangan berlebihan seperti itu, tapi … terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Daichan masih tetap seorang teman, bukan?”

“Terserah kau saja. Aku tidak ingin membahas ini lagi. Sekarang pergilah mengganti pakaianmu, aku akan memasakkan sup untukmu, jadi tunggulah sebentar.”

“Tidak, tidak. Aku sudah menyantap sup saat di flat Daichan tadi. Aku hanya ingin beristirahat. Uh, apa kau tidak memiliki pekerjaan hari ini?”

Ryosuke mengembuskan napas, dia sedikit kecewa namun tetap berusaha untuk tidak menunjukkan perubahan wajahnya di depan Asako. Dia lantas berjalan mendekati Asako dan menggerakkan telapak tangannya untuk menepuk-nepuk lengan sang gadis. “Beristirahatlah, aku akan mampir lagi setelah menyelesaikan pekerjaanku, hm?”

Asako mengangguk kecil dan tersenyum. Ryosuke bergegas pergi sementara sang gadis hanya menatapnya dalam geming. Namun, sebelum punggung Ryosuke menghilang dari balik dapur, Asako memanggilnya dan berteriak kecil—

“Yamada-kun, bisakah kau lebih memercayaiku lagi? Maksudku, aku dan Daichan sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, jadi … bisakah kau percaya kepadaku, hm? Jangan biarkan hal seperti ini membuat hubungan kita bermasalah … kau mengerti maksudku, bukan?”

Ryosuke tersenyum, “Tentu. Aku percaya padamu. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, lambat laun kau akan memperbaiki kebiasaanmu itu, aku percaya.”

.

.

-fin.

.

.

KYAAAA!! INI APAAAA ;;;;;; KAK ASHA MAAFKAAN AKU (first time aku bikin fic jejepunan huhuhuhuhuhuhuhu) kak asha maaf kalo OOC banget dan plotnya malah ga sesuai ekspektasiiii aku lagi menboong dan jadinya malah kaya gini plotless banget ficnya huhuhuhuhu maafkaaaannnn, tapii semoga suka ya kak dan sedikit terhibur ;;;;

Iklan

Satu pemikiran pada “Treat Me Better

  1. UAAAAAAAAA
    UAHAHAHAHAHHAHAHA
    HAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAKAAKK
    aku awalnya kebayang si Ryosuke bakal ngamuk gitu cemburu gak jelas soalnya orangnya suka emosi kalo uda nyangkut begituan—so far that I kno—tapi doi justru sabar ehe hamdalah. Trus ya loooord, daichan you sejak kapan jadi suja masak???? Yang pinter masak tuh Ryosuke, hmmm jangan-jangan sup kaldumu ngga ada rasanya???? *ditampol
    Tapi Ryosuke pengertian banget gila, cewenya bobo ma mantannya padahal wadududu. Warbiasa.

    Anyways! Thanks bgt ya riiis kamu uda mengabulkan rikuesku yang telat dan tidak sesuai peraturan huhuhu beneran beneran beneeran makasih banget! I like it, don’t worry!

    Luv, asha.

    Suka

Gimme Your Appreciations

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s